Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Hal yang cukup absurd adalah ketika ada yang bertanya padaku tentang cita – cita. Lalu pikiran yang lebih absurd lain muncul lebi...


Hal yang cukup absurd adalah ketika ada yang bertanya padaku tentang cita – cita. Lalu pikiran yang lebih absurd lain muncul lebih liar lagi, jawaban atas sebuah pertanyaan tadi. Apa cita- citamu? Aku ingin menjadi presiden. Pikiran absurd lainnya yang muncul sebagai pertanyaan “apa cita-citamu” aku ingin menjadi presiden.

Cita – cita apa itu cita – cita? Kadang aku sendiri bungung mendeskripsikannya. Lalu aku bingung menjawab pertanyaan ketika ditanya apa cita-citamu mu? Kadang – kadang aku langsung menjawab dengan lantang dan cepat ketika ditanya cita-cita, aku ingin menjadi pilot, jenderal, arsitektur, seorang pembangun. namun kini hal tersebut kadang cukup aneh. Jawaban-jawaban yang ada ketika mereka tanya adalah sebuah jawaban spontanitas saja. Mungkin sebuah keinginan. Sebuah keinginan yang memang tak diukur dari modal kemampuan serta keadaan yang tersedia. Apakah memang sebuah cita – cita harus diukur? Pertanyaan lainnya yang muncul. Namun satu lagi pertanyaan yang muncul ketika aku berpikir tentang cita – cita “dari mana kita berasal, dan dari mana kita akan kembali?” sebuah pertanyaan yang harus dijawab sebelum saya memberikan jawaban yang sesungguhnya ketika seseorang bertanya padaku “apa cita- citamu?”. 

Beberapa orang berupaya sekuat tenaga mengerahkan segala usaha demi keberlangsungan hidupnya di dunia. Namuan dari mereka hanya sebagian yang sadar untuk apa sebenarnya kehidupan di dunia ini, untuk apa keberlangsuangan hidup di dunia? Kehidupan yang singkat tapi mereka yang berupaya dengan sekuat tenaga mencurahkan segala hidupnya untuk kehidupan dunia, seolah olah lupa. Sebuah persiapan yang padat untuk kehidupan yang sesaat. Kita harus tahu ke mana kita akan pergi.

https://zayeedalmajnun.wordpress.com

Diplomasi menurut kamus bahasa Indonesia merupakan kegiatan menjadlin hubungan dengan negara lain secara resmi. Ihwalnya diplomasi...

Diplomasi menurut kamus bahasa Indonesia merupakan kegiatan menjadlin hubungan dengan negara lain secara resmi. Ihwalnya diplomasi ini berakitan dengan diplomat sebagai wahana hubungan internasional. Namun kata diplomasi dewasa lazim digunakan oleh masyarakat sebagai jalan untuk menjalin hubungan, dan bukan hanya dalam rangka menjalin hubungan resmi dengan negara lain.  Bahkan acara lobying pun sering dikaitkan dengan diplomasi. 

Banyak cara digunakan untuk menjalin hubungan diplomasi, baik lewat pembicaraan formal macam duduk dikursi, bendera di kanan kiri, sambutan kenegaraan dan jamuan makan, maupun diplomasi yang semacam bujukan yang biasa dilakukan kernet mobil coltmini atau sopir taksi. Kesemuanya itu lazim disebut diplomasi. 

Ketika beberapa waktu lalu hubungan Indonesia - Tiongkok  menegang, FPCI, sebuah komunitas hubungan internasional mengadakan event menulis tentang pandangan pemuda Indonesia terhadapa Tiongkok. Menurut saya hal itu merupakan salah satu cara diplomasi, menjaga hubungan yang sudah terjalin dengan baik. Karena semua mafhum, bahwa hubungan harus dijaga. Selain itu FPCI juga menggelar disebut dengan diplomasi bakso, sebuah acara dengan melibatkan para duta besar dari negara-negara tertentu untuk berdiskusi bercerita sambil makan bakso. Dan mungkin di era – era dulu juga ada adegium tentang diplomasi rokok, karena bagi mereka yang pernah melakoninya, rokok bisa dijadikan salah satu alat untuk diplomasi serta mengorek informasi. Dan mungkin lebih tepatnya disebut diplomasi tembakau.

Banyak presepsi ketika aku memutuskan untuk berhenti. Sebagian menyatakan karena ada masalah pribadi, konflik dengan beberapa unsur pimpin...





Banyak presepsi ketika aku memutuskan untuk berhenti. Sebagian menyatakan karena ada masalah pribadi, konflik dengan beberapa unsur pimpinan dan staf dan bahkan ada yang mengaitkannya dengan unsur politis. Namun biarlah presepsi itu berkembang dengan sendiri dipikirannya masing – masing. Karena sekeras apapun aku menjelaskan, tak akan semuanya mafhum dengan maksudku. Jawaban yang paling normatif yang saya keluarkan ketika mereka bertanya, untuk mengisi kekosongan atas jawabanku, aku sering menjawabnya “aku ingin lebih fokus dengan pendidikanku”, beberapa orang langsung menerima jawabanku, ketika mereka sadar bahwa data penelitianku hilang dikantor beserta berkas kerja digitalku. Aku tidak memanipulasi jawaban ketika mereka bertanya, karena jawabanku yang aku utarakan mewakili sepersekian alasan. Meskipun semuanya yang aku sampaikan bukan merupakan alasan utama, mungkin alasan pembantu, atau juga alasan sampingan.

Minggu awal aku berhenti, begitu terasa perbedaannya. Minggu pertama yang membuatku sedikit frustasi sebagai bentuk adapatasi dari awalnya yang setiap hari sering apel pagi tapi kini saya bisa saja duduk manis dengan menikmati kopi. Tapi bukan, bukan itu maksudku. Aku mengalami hari tanpa rutinitas yang selama halmpir 4 tahun aku jalani, dan diminggu pertama aku tanpa apel pagi, tanpa sepatu mengkilat sebelum berangkat dan sapaan selamat pagi dan selamat datang membuatku tersiksa, tapi itu hanya terjadi beberapa hari saja. Hari selanjutnya aku berusaha mengisi waktu ku dengan berbagai kegiatan yang bisa aku lakukan. Mungkin mereka akan bertanya jika mengetahui keadaanku, “lantas kenapa kau berhenti?”. Tapi aku telah memilih.

Pernah saya mengalami hari dimana aku tak punya sekedar untuk ongkos bensin sekalipun ketika harus mengisi kelas diskusi dengan mahasiswa, alhasil sosok ibu menjadi penolong dengan memberikan beberapa rupiah dan menyiapkanku bekal karena beliau mengerti kalau saya pasti tak mampu untuk membayar makan diluar. Pernah aku lalui hari ketika besok akan lebaran para haji, saya hanya selembar rupiah berwarna merah dengan gambar sultan hasanudin gagah yang cukup untuk ongkos bensin ketika pulang saja. tapi ketika takbir di malam itu ber kumandangkan seseorang dengan tanpa diduga duga seorang mentor senior menjadi jalan menghilangkan gundah yang sebenarnya tak perlu dengan mengsisi dompetku.

Beberapa waktu awal memang sarat dengan keadaan yang kontras dari sebelumnya, keadaan yang awalnya sangat mewah bagiku dengan fasilitas yang bisa membuat tersenyum terpesona dengan seruput kopi dan hitam kilatnya sepatu. Kontras, mungkin itulah apabila kita masukan dalam perbandingan. Masa itu adalah masa – masa sulit, tapi perjuangan baru di mulai. Terkadang aku terasa egois karena mempertahankan idelalis. Tapi aku dan setiap orang pun harus punya prinsp dalam jalan hidup yang kini dilakoni. Dan ini adalah jalan yang aku ambil, prinsip yang aku genggam, dan idelisme yang aku pertahankan. Memang sulit dan perjalanan tak selalu mudah dan rintangan pasti ada. Tapi haruslah selalu yakin, aku pasti sampai waktunya. Ku pinjam kata – kata sebuah lirik tembang pemimpin, “ telah kupilih jalanku sendiri, dalam prinsip kehidupanku, meski takkan selalu indah, aku yakin sampai disana” itu dengan rasa sepenuhnya cukup mewakili apa yang aku alami.


Chepanas, 29 April 2016




*Sumber gambar batu "kuyakin sampai di sana" : Lieshadie's Blog - WordPress.com

Jalanan berdebu. Panas terik cukup untuk membuat peluh bercucuran. Kombinasi antara debu yang berterbangan hinggap di wajah, leher, da...



Jalanan berdebu. Panas terik cukup untuk membuat peluh bercucuran. Kombinasi antara debu yang berterbangan hinggap di wajah, leher, dan tangan yang berkeringat akan menghasilkan semacam kotoran menempel yang biasa disebut daki. Tapi dia tapi peduli itu. Tuntutan untuk bertahan hidup jadi penggusur yang lebih kuat daripada gengsi hanya untuk menghindari daki. Berteman debu dipayungi terik matahari, dua kawan baru itu nampak akrab, atau mungkin baru – baru ini berusaha dia untuk mengakrabi seperti kawan yang lainnya. 

Sesekali melihat kanan dan kiri ketika hendak berpindah dari bahu jalan, dari kanan ke kiri. Tangannya bergetar ketika jari – jarinya yang tak lagi segar mengangkatkan serokan plastik berisi pasir, ya pasir, sesekali juga berisi koral. Wajahnya. Ah, sorot  mata di wajahnya begitu teduh, mengalahkan terik matahari yang menaungi. Begitu tenang, wajahnya begitu tenang, ditengah deru kendaraan, alat berat yang menghantam bebatuan juga suara kawan pekerjaan yang seperti setengah teriakan. Sesekali nampak senyuman diwajahnya yang tak lagi muda, selingan ketika percakapan dengan kawan seperjuangan. 

Ah, aku tidak sampai dengan apa yang ada dipikirannya. Di usia yang pasti bukan hanya menurutku saja bahwa dia sudah berusia senja, tetapi dia masih bekerja. Sepertinya semua akan lain cerita jika di usia senja bekerja dengan semestinya, bukan bekerja diantara bebatuan dan alat berat serta kepanasan. Yah tetapi yang pasti di usia senja sudah saatnya saja untuk bermain bersama banyak cucu di beranda, mengisahkan perjuangan masa kemerdekaan, atau bercerita tentang dongeng si kabayan. 

Ditulisan sebelumnya, saya sudah janji untuk melanjutkan cerita berjalan - jalan ke Jakarta alias ke Kota Tua. Hampir lupa sampai mana d...

Ditulisan sebelumnya, saya sudah janji untuk melanjutkan cerita berjalan - jalan ke Jakarta alias ke Kota Tua. Hampir lupa sampai mana dibagian sebelumnya saya bercerita.

“Akan dilanjutkan bagaimana saya melewati sungai yang dulu mungkin dianggap akan Indah seperti sungai Sein di Perancis, dan melihat bagaimana Bank yang sepi nasabah karena memang sudah menjadi Ex – Chartered Bank serta melihat Kampus Akademi Marinir yang kehabisan para kadet” 

Dulu, hampir setiap pagi aku bisa melihat pelangi, berlari – lari bermain  bersama kawan meski kadang lupa waktu. Masa kecilku menyenangka...

Dulu, hampir setiap pagi aku bisa melihat pelangi, berlari – lari bermain  bersama kawan meski kadang lupa waktu. Masa kecilku menyenangkan, terkadang aku ingin kembali ke masa itu sekedar untuk tersenyum tanpa ragu -kupinjam kata – kata mu-.

Dengan ribuan kata peristiwa bisa terdeskripsi, kisah ataupun mimpi. Yang tertuang ataupun yang terbuang, terulang atau yang sengaja diulang. Yang hilang atau yang terkenang, disusun ataupun tersusun.

Beberapa teman menghilang, beberapa kawan datang dan sahabat tetap bertahan. Beberapa dari mereka berlari mengejar mimpi menyusun pondasi mercusuar tinggi, mendaki. Namun beberapa ada pula memenuhi panggilan Sang Ilahi untuk kembali, pulang. 

Beberapa mebina keluarga membina bahagia, menyaksikan tumbuh kembang putera – puterinya. Beberapa lagi sedang bangkit dari kejatuhan, tak peduli luka karena yakin kemenangan akan tiba. Beberapa lagi hilang tak berbekas, terbenam dan tak peduli pada popularitas. 

Tersebutlah bujang, seorang anak kecil yang tinggal di sebuah dusun kawasan pertanian di tepi hutan, di kaki gunung. Dia senang bermain, b...

Tersebutlah bujang, seorang anak kecil yang tinggal di sebuah dusun kawasan pertanian di tepi hutan, di kaki gunung. Dia senang bermain, berkumpul bersama anak – anak dusun yang lainnya.  Apalagi di musim kemarau ketika cuaca mendukung untuk bermain layangan. 

Hingga suatu hari, cuaca begitu panas. Anak – anak yang lain bermain layangan di bawah terik matahari. Si bujang hanya melihat anak – anak yang lain bermain layangan, melihat layangan yang mengudara melanglang buana. Hanya itu yang dia bisa lakukan, karena si Bujang tidaklah bisa menerbangkan layangan. Kadang sesekali dia, si Bujang berlari – lari bersama yang lain mengejar layangan putus.

Hari yang panas membuat keringat bercucuran dan kehausan. Si bujang meronggok saku kecilnya dengan tangannya yang mungil. Diraihnya sekeping koin uang jajan dari emaknya dan berlarilah si Bujang menuju warung. Berharap bisa mendapatkan minuman segar untuk menghilang dahaganya yang sedari tadi dirasakannya. 

Si Bujang keluar dari sebuah warung dengan wajah riang. Berlari dengan minuman segar di tangannya. Bayangan kesegaran yang akan dirasakan kerongkonganya terpancar jelas di wajahnya, meskipun belum dia minum. 

Namun di tengah larinya dengan wajah riang itu Si Bujang tersungkur ke tanah. Kaos lusuh kotor dihadang tanah yang berdebu terpanggang matahari. Wajahnya tergores kerikil. Dan minuman segarnya, minuman yang diharapkan melingkan dahaganya mengalir di tanah. 

Minuman segar berkemasan plastik itu tumpah, wajah si bujang sedih. Si Bujang  menangis, sambil memerhatikan minumannya meresap ke dalam tanah yang kering.

https://zayeedalmajnun.wordpress.com/

Kemarin dulu saya pernah bilang mau mengulas beberapa foto yang saya publish. Karena lumayan cukup banyak foto yang saya publish meskipun ...

Kemarin dulu saya pernah bilang mau mengulas beberapa foto yang saya publish. Karena lumayan cukup banyak foto yang saya publish meskipun sebenernya hanya tiga , saya akan mengulasnya satu persatu dalam postingan yang berbeda, karena memang tiap foto mempunyai cerita masing – masing. Sebelum saya mengulas foto, terlebih dahulu saya jelaskan asal usul foto yang akan saya ulas.

Beberapa waktu lalu saya melakukan lawatan ke daerah ibukota. Jakarta, ibu kota Indonesia. Pandangan orang terhadap kota tersibuk di Indonesia ini bermacam macam ternyata. Mulai dari banyaknya tempat – tempat nongkrong semacam mall, Monas, Istana Presiden, sampah, banjir, kemacetan , busway, bis tingkat, dan masih banyak yang lainnya, sampai tukang obral baju murah di senen.